Peluang Emas, Nuklir, dan Kiamat makin Dekat

Posted on Feb 20, 2020

Ilustrasi kiamat makin dekat karena perang nuklir

Pada Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom nuklir di Jepang untuk mengakhiri Perang Dunia II. Dua tahun setelah itu, Bulletin of the Atomic Scientists merilis “Doomsday Clock” sebagai simbol kiamat buatan manusia. 

Jam yang menunjukkan kiamat makin dekat

Digambarkan sebagai jam yang jarumnya menuju tengah malam. Makin dekat dengan angka 12, maka makin dekat dengan kiamat. Pada 1953, 2 menit adalah waktu paling dekat dengan kiamat dalam 67 tahun terakhir. Ini setelah AS menguji bom nuklir “Ivy Mike” pada 1952. Bahkan, Iron Maiden membuat lagu “2 Minutes to Midnight” (1984) untuk itu.

Pada 23 Januari 2020, Bulletin of the Atomic Scientists merilis Doomsday Clock yang lebih mutakhir “100 Seconds to Midnight”. Sepanjang sejarah, ini adalah waktu terdekat dengan kiamat. Ada 3 faktor yang memengaruhinya, yaitu: senjata nuklir, perubahan iklim, dan Disinformasi berbasis cyber (hoax).

Peluang Emas di Tengah Konflik Nuklir

Senjata nuklir memang jadi acuan utama untuk Doomsday Clock. Belakangan ini, konflik nuklir sering terjadi. Trader maupun investor yang andal harus bisa bereaksi terhadap situasi apa pun karena selalu ada peluang emas. Kita ingat pada 22 September 2017 harga emas naik saat Korea Utara mengumumkan akan uji-coba bom nuklir. 

Konflik AS-Korea Utara ini sudah “mencair” setelah Donald Trump dan Kim Jong-un bertemu pada Juni 2018. Anda mungkin salah seorang yang melewatkan peluang emas saat itu.

Sekarang, hubungan AS sedang memanas dengan Iran setelah saling melancarkan serangan drone hingga menewaskan Jenderal Qasem Soleimani. Di tengah konflik AS-Iran ini, Anda harus bisa melihat peluang untung di minyak maupun emas. 

Konflik AS-Iran bisa bikin kiamat makin dekat

Konflik membuat kondisi ekonomi tidak menentu, sehingga investor akan mengalihkan asetnya ke instrumen safe haven atau aset yang diharapkan nilainya tetap. Emas adalah aset safe haven favorit investor karena nilainya tidak terpengaruh oleh kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, permintaan terhadap emas pasti meningkat saat ada konflik global.

Namun, ada sejumlah risiko bila kita berinvestasi dalam bentuk emas fisik batangan, seperti risiko kehilangan atau dicuri oleh orang. Jadi, menyimpan emas terutama dalam jumlah besar memerlukan biaya lebih bila ingin aman, seperti menyewa brankas di bank atau di pegadaian. Solusinya, investor bisa trading emas online.

There are no comments yet

  • Hello, guest